oleh Editor Dua | Feb 24, 2018 | Kabar Sekolah, Majalah Sinaran
Memuliakan Ilmu
Alloh Yang Maha Bijaksana, menjadikan ilmu sebagai salah satu jalan memuliakan manusia. Ilmu yang didatangkan Alloh di alam raya, diciptakan bagi kebaikan hidup manusia. Maka sebagai hamba Nya, sudah selayaknya kita menempatkan sesuatu yang Alloh jadikan manusia mulia itu, kita muliakan pula.
Allah ta’ala berfirman,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” [Al-Mujadilah: 11]
Hampir kita semuanya kita sepakat, ilmu merupakan sesuatu yang utama. Dimulai dari kesepakatan untuk mendidik putra-putri tercinta di rumah sejak kecil, menyekolahkan mereka di rumah ilmu yaitu sekolah dan pondok pesantren, hingga jenjang tertinggi di perguruan tinggi secara formal. Banyak juga dikalangan kita membudayakan raihan ilmu yang didapat secara informal. Akan tetapi belum semua bersepakat untuk bertindak sebagai manusia yang memuliakan ilmu dengan menguasai dan memanfaatkannya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
يرفع الله المؤمن العالم على المؤمن غير العالم ورفعة الدرجات تدل على الفضل إذ المراد به كثرة الثواب وبها ترتفع الدرجات ورفعتها تشمل المعنوية في الدنيا بعلو المنزلة وحسن الصيت والحسية في الآخرة بعلو المنزلة في الجنة
- Allah mengangkat derajat seorang mukmin yang berilmu melebihi mukmin yang tidak berilmu.
- Terangkatnya derajat menunjukkan keutamaan, yaitu banyaknya pahala yang dengan itu terangkatlah derajat.
- Ketinggian derajat mencakup ‘maknawiyah’ di dunia, seperti kedudukan yang tinggi dan disebut dengan kebaikan, dan juga mencakup ‘hissiyah’ di akhirat yaitu kedudukan yang tinggi di surga.
[Fathul Baari, 1/141].
Berita ini menjadi penguat jiwa-jiwa beriman untuk haus terhadap ilmu dengan penuh kepentingan menisbatkannya pada kehidupan masing-masing. Ilmu yang sungguh penting mendasarinya adalah Ilmu Aqidah, yang merupakan fondasi insan beriman berkeyakinan, berpikir dan bertindak. Terlebih menuntut ilmu menjadi sebuah kewajiban. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)
Ilmu yang mana yang diwajibkan untuk dipelajari dengan penuh kesungguhan oleh Umat Islam?
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ
“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu.Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu.Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”
Maka mendikotomikan ilmu dunia dan akhirat, tanpa menggenggam dan menguasainya, menjadikan kita terjebak dalam kesesatan.
لَيْسَ بِخَيْرِ كُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لِاخِرَتِهِ وَلاَ اخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتّى يُصِيْبُ مِنْهُمَاجَمِيْعًا فَاِنَّ الدَّنْيَا بَلَاغٌ اِلَى اْلاخِرَةِ وَلَاتَكُوْنُوْا كَلًّ عَلَى النَّاسِ
“Dari Anas ra, bahwasannya Rasulullah Saw. telah bersabda, “Bukanlah yang terbaik diantara kamu orang yang meninggalkan urusan dunianya karena (mengejar) urusan akhiratnya, dan bukan pula (orang yang terbaik) oarang yang menhinggalkan akhiratnya karena mengejar urusan dunianya, sehingga ia memperoleh kedua-duanya, karena dunia itu adalah (perantara) yang menyampaikan ke akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban orang lain.” (HR
Kedudukan aqidah bagi ilmu-ilmu dan amal-amal adalah seperti kedudukan fondasi dalam sebuah bangunan, seperti akar bagi pohon. Sebagaimana halnya bangunan tidak bisa berdiri tanpa pondasi dan pohon tidak bisa tegak tanpa akarnya maka demikian pula ilmu dan amal seorang tidak akan bermanfaat kecuali apabila didasari dengan keyakinan yang benar. Aqidah sebagaimana diajarkan melalui Rasululloh Muhammad, yang diiringi para sahabat dan ulama wa Rasatul Anbiya’.
Aqidah yang benar adalah parameter diterimanya amal di sisi Allah. Lawan dari aqidah yang benar adalah syirik (mempersekutukan Allah). Untuk itulah kesungguhan mesti dilandasi keinginan mendapatkan petunjuk yang benar, agar terbebas dari kesesatan dan kesyirikan. Maka mempelajarinya kepada orang berilmu, menjadi kunci agar selamat dalam mendalami ilmu fundamental. Ilmu yang akan menjadi landasan menempatkan kepentingan ilmu-ilmu yang lain untuk dikuasai demi kemaslahatan hidup dunia hingga keselamatan hidup di akhirat kelak.
Memuliakan Ulama
Fenomena tidak menghargai para ulama, sangat mungkin dikalangan masyarakat yang tidak berilmu. Akan tetapi terjadi pula sikap elemen masyarakat yang dianggap “intelek” akan tetapi jauh dari pemahaman Islam. Bahwa sudah menjadi kondisi yang umum, setiap Nabi dan Rabu diutus, terdapat fenomena penentangan, bahkan tidak sedikit para Nabi yang dibunuh umatnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu),
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169).
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama, pewaris tugas mulia para Nabi. Sehingga, ilmu syariat terus terpelihara kemurniannya. Oleh karena itu, meninggalnya salah seorang dari mereka para Ulama Wa Rasatul Anbiya’, mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagi muslimin, dengan berkurangnya Ulama sebagai sumber ilmu dan pemberi fatwa-solusi. Ketika terjadi kebingungan kaum awam dalam mensikapi permasalahan kehidupan, semakin sedikitnya pemberi rujukan akan berpengaruh tindakan yang akhirnya dipilih umat. Tidak kenal maka tidak paham. Tidak paham maka tidak menghargai, dan tidak menghargai maka tidak sayang. Pepatah orang berilmu diatas menggambarkan betapa jauhnya dampak orang tidak berpengetahun cukup.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)
Menggapai ikhtiar berilmu
Memuliakan ilmu akan berdampak kesadaran memuliahkan sumber ulama. Memuliakan ulama dan bersahabat dengan sumber ilmu akan menjadi akibatnya. Menggemari kegiatan mencari,mengeksplorasi ilmu menjadi cirinya. Menjalin interaksi dengan komunitas jamaah pengkaji ilmu menjadi akibat baiknya. Kehidupan saling mendukung dalam menggapai ilmu menjadi keseharian ikhtiarnya. Menggemari manfaat dari berilmu akan menjadi hadiah berharganya.
Menjadikan kegiatan belajar, mengaji, mengembangkan ilmu dan mengaplikasikannya dalam kehidupan menjadi tahapan manusia berilmu dan menghargai ilmu. Selain kebutuhan pokok untuk hidup, makan,minum, berketurunan, manusia, belajar ilmu kehidupan Aqidah, syariah dan muamalah, mempersenjatai ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadi jembatan untuk manusia memuliakan dirinya dengan ilmu. Ilmu dunia kita butuh, ilmu akhirat menjadi jalan menggapai tujuan akhirat, kebahagiaan dan keselamatan abadi.
Maka Nabi صلى الله عليه و سلم menuntunkan kita berdoa setiap pagi, dengan doa:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima“. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu as-Sunni).
Dampak pengharapan ilmu yang bermanfaat tersebut, kita ikuti dengan upaya mendapatkan ilmu dengan sungguh-sungguh, mementingkan waktunya, mementingkan tempat dan sumbernya, mementingkan diri untuk mendapatkan dan memahami ilmunya, dan bersungguh-sungguh merealisasikan ilmu yang sudah dipahami, sehingga berbuah amal yang manfaat. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, menghargai ilmu dan memuliakan orang yang berilmu, memuliakan ulama-ulama wa rasatul Anbiya” dengan mendapatkan keberkahannya.
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ, وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَ مِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim:2722, an-Nasa’i VIII/260). (171)
#SINARAN
#SINARAN52
oleh Editor Dua | Jan 23, 2018 | Kabar Sekolah, Kegiatan Siswa
Assalamualaikum sahabat biasyaumifatimah.com , Alhamdulillah pada kesempatan kali ini ketemu lagi dengan kami dengan suasana yang hijau nan asri. …. kalian akan kami ajak melihat bagaimana serunya teman-teman dalam belajar menanam dan merawat tanaman sayur dan buah.
Yuk… ber-wamesa (siswa menanam Sayur) adalah gerakan sederhana untuk mengajak siswa menanam sayur, merawat dan memanen baik untuk dikonsumsi maupun dijual.
Dengan gerakan ini maka diharapkan selain mengembangkan karakter bertanggung jawab, disiplin, peduli dan empati juga menumbuhkan rasa bangga bisa menjadi orang yang produktif.
ASYIK dan Serunya #WAMESA




Ber-wamebu (siswa menanam buah) adalah gerakan sederhana untuk mengajak siswa menanam buah, merawat dan memanen baik untuk dikonsumsi maupun dijual.
ASYIK dan Serunya #WAMEBU



Agenda merawat tanaman
Kira-kira apa saja yang akan dikerjakan teman-teman dalam agenda perawatan ini ya…
Pertama tanaman akan didangir kemudian dibersihkan rumputnya, diperbaiki talinya, dan disiram dengan air campur pupuk. Tiap ember kecil dikasih 1 tutup untuk 2 orang. Anak-anak mencampur sendiri. Kemudian mereka juga harus melaporkan keadaan pohonnya. Adakah serangan hama?. Pertumbuhanya bagaimana ? … yang seru lagi mereka juga mengamati tanaman lain. Misal 3 jenis milik temannya. Bentuk daun tanamannya mereka juga harus tahu lho. Wahh… ayuk kita lihat keseruan teman-teman dalam merawat tanaman.





Alhamdulillah sudah ada yang berbuah




Kakak-kakak kelas VI juga semangat dalam ber #WAMESABU







Bagaimana dengan kalian, sudah menanam buah apa di rumah?
oleh Editor Dua | Nov 14, 2017 | Ruang Psikolog
RENUNGAN MASA KECIL (1)
UNTUK MENDIDIK ANAK
Oleh: Adin Suryadin, Psi, M.Si
Ketika saya pulang ke kampung halaman, terkenang masa-masa kecil yang indah, bermain di masjid, di sungai belakang rumah dan berbagai aktivitas belajar dan bermain mulai dari subuh setelah sholat subuh mengaji itu menjadi sebuah tradisi, dimana-anak-anak bersemanagat ke mushola-mushola atau ke rumah para ustadz untuk belajar membaca al Quran, hampir semua anak-anak pada saat itu selalu berebutan untuk mendapatkan ngaji yang pertama (walau ada sedikit niatan kecil agar bisa dapat kesempatan duluan mengambl buah-buahan yang jatuh di halaman belakang rumah ustadz). teringat pada saat itu saya terlambat datang untuk ngaji dan saya merasa kecewa dan sedih kenapa saya jadi yang terakhir sehingga banyak kedahuluan teman-teman. Semangat belajar itulah yang terus terbina menjadi suatu tradisi di lingkungan masyarakat dulu di kampng saya.
Setelah selesai ngaji ngaji kita bersiap untuk sekolah, ini juga merupakan tradisi berangkat ke sekolah bersama teman, jadi saya selalu berusaha siap sebelum jam 06.30 di depan rumah dan menunggu teman untuk jalan kaki bersama-sama ke sekolah yang jaraknya kurang lebih 2 km dari rumah. Tentu dengan persaan senang sambil bersenda gurau pada saat jalan ke sekolah maupun pada saat pulang dari sekolah.
Pulang dari sekolah seperti anak-anak yang lain ada yang istirahat siang atau bermaian bersama teman di sekitar rumah, kadang main petak umpet, main kelereng, dan anak puteri biasanya main pasar-pasaran atau main karet gelang dan bola bekel. Hampir semua unsur permaianan mengembangkan dan melatih sikap kerja sama, mengikuti aturan, melatih ketrampilan motorik kasar ataupun motorik halus, namun yang utama kita saat senang dan bahagia bisa bermain bersama teman.
Setelah sholat ashar hampir semua anak-anak usia sekolah dasar sampai usia SMP mengikuti sekolah agama di masjid-masjid terdekat atau di rumah-rumah para ustadz/ah, ada juga yang di madrasah-madrasah bagi masjid yang besar yang sudah ada madrasahnya. Kegiatan sekolah agama ini rata-rata selesai jam 17.00 atau jam 5 sore. Antara magrib dan isya biasanya kita bermain di sekitar masjid…….dari hari ke hari saat itu penuh dengan kebahagiaan dan ceria …kita bermain dan belajar tanpa merasa beban melakukannya. Sering juga kita nonton televisi di rumah tetangga sampai waktu sholat isya. Malam setelah isya kita habiskan waktu bersama orang tua dan saudara di rumah, makan bersama, belajar dan menyiapkan pelajaran untuk besok nya ngaji subuh dan sekolah. Kalau pas libur sekolah agama hari jumat siang sampai sore anak-anak sering bermain dan berenang di sungai belakang rumah yang saat itu airnya masih jernih…..rasanya ingin kembali ke masa itu.
Sekarang kampung halamanku sudah tidak seperti dulu lagi…rumah-rumah sudah semakin padat, berdempetan tapi tidak kelihatan aktivitas anak-anak bermain di halaman atau di pinggir jalan, setelah hampir semua rumah punya televisi dan banyak program tontonan chanel di televisi yang menyajikan tontonan yang menarik, aktivitas anak-anak semua di rumah masing-masing. Masjid dan mushola menjadi sepi di waktu-waktu yang bukan waktu sholat. Anak-anak kampung semakin banyak namun interaksi sosial diantara mereka semakin sedikit. Apalagi Gadget dan HP hampir semua orang memilikinya…mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Perilaku anak-anak semakin cuek dengan sekitarnya, tata nilai sopan santun dengan orang tua semakin diabaikan, dan bahkan banyak kejadian kenakalan pada anak-anak usia SD dan SMP.
Mana suasana kampungku yang dulu ? …..lingkungan yang selalu mendidikku denga tradisi yang menyibukkan anak-anak dengan belajar, mengaji dan bermain yang penuh dengan dinamika pelajaran yang dikandungnya. Dulu orang tua kita tidak akan takut anak-anaknya bermain ke luar rumah karena diluar rumah masjid dan madrasah lah yang akan mendidiknya, dulu orang tua kita tidak akan takut kalau kita nonton televisi di rumah tetangga karena di sana tidak ada pendidikan atau tontonan yang negatif. Dulu orang tua dan para guru serta ustadz/ah selalu sepaham dalam mendidik anak-anaknya, sehingga apabila kita dimarahi atau bahkan dipukul oleh guru dan ustadz kita, maka orang tua kita pasti akan mendukungnya….sehingga kita tidak mungkin mengadu kalau di marahi atau di cubit oleh ustadz kita, karena kita akan mendapatkan kemarahan yang sama dari orang tua kita. Bahkan kita sering takut dan malu untuk melaporkan pada oang tua kita kalau kita dimarahin oleh ustadz kita.
Akhirnya saya tersadar dari lamunanku….sekarang saya adalah sudah jadi orang tua, bagaimana dengan anak-anak kita sekarang? Disaat kita selalu disibukkan dengan segudang aktivitas sehingga sering mangabaikan anak-anak kita, cukuplah anak-anak kita tenang sambil memegang HP dan atau nonton televisi agar tidak menganggu kita. Bermain keluar, lingkungan sekitar banyak tontonan yang negatif yang kita tidak mempercayainya, kita sebagai orang tua yang kadang terlalu sayang pada anak kita sehingga tanpa sadar kita telah memanjakan anak kita, maka apabila anak kita di marahin di sekolah atau di madrasah kita sering tidak terima. Pola seperti ini yang mengakibatkan karakter anak tidak terbentuk dengan baik, anak akan berusaha mengabaikan perintah guru atau ustadz/ah nya dengan alassan orang tuanya, demikian juga anak akan menentang orang tua dengan alasan sekolah atau lingkungan masyarakat sekitarnya. Dampaknya perilaku anak semaunya sendiri, dengan demikian kenakalan akan sering terjadi.
Terus sebaiknya kita harus bagaimana menghadapi keadaan seperti ini ?, ada beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk mendidik anak kita dewasa ini:
- Bangun komunikasi dan interaksi sosial yang baik dengan anak – anak kita. Kita selalu berbicara dari hati ke hati dalam suasana yang santai dan rileks, luangkan kebersamaan dalam beberapa kegiatan dengan anak-anak kita
- Buatlah aturan yang jelas di rumah mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, juga aturan libur dan hari-hari tertentu.
- Buatlah aturan penggunaan HP atau Gadget pada anak-anak kita secara wajar dan terarah, misalnya penggunaan HP hanya pada sore setelah ashar sampai sebelum magrib. Waktu-waktu lainnya untuk berinteraksi dan beraktifitas bersama.
- Dukung dan kerja sama yang intensif dengan program-program sekolah anak-anak kita dan jauhkan dari lingkungan yang negatif.
- Masukan anak-anak kita ke pondok-pondok yang lingkungannya mendidik dan membiasakan anak mengikuti aturan dan etika agama, sehingga ahklak anak kita akan terbentuk sesuai aturan syariat.
- Budayakan tradisi beribadah dan tradisi belajar di rumah dengan cara kita memberikan contoh membaca dan belajar lainnya, agar anak-anak kita tetap semangat untuk belajar.
- Selalu mendoakan untuk kebaikan anak-anak kita.
Terakhir serahkan segala urusan hanya pada Allah, insya Allah selalu ada jalan.
Wallahu a’lam bishowab.
oleh Editor Dua | Nov 14, 2017 | Majalah Sinaran
Ngaji dalam bahasa Jawa, umumnya dimaknakan dengan “maca kitab Qur’an” atau membaca Kitab Suci Al Qur’an. Sebenarnya Ngaji dari kata mengaji, kaji dalam bahasa Indonesia. Sedangkan dalam bahasa Indonesia Mengkaji dimaknakan sebagai berikut:
meng.ka.ji
Verba (kata kerja)
(1) belajar; mempelajari;
(2) memeriksa; menyelidiki; memikirkan (mempertimbangkan dan sebagainya) ; menguji; menelaah: mengkaji baik buruk suatu perkara
Maka mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah bagi kaum muslimin tidak saja sangat penting, melainkan WAJIB. “Ngaji” menjadi identitas bagi setiap mukmin untuk dunianya dan untuk akhiratnya. Maka mementingkan ngaji, adalah mementingkan waktunya, mementingkan perhatian, tenaga,biaya bahkan apapuin yang jika diperlukan untuk terlaksananya Ngaji. Mementingkan adalahmengutamakan supaya setiap pribadi tidak lepas dari ngaji. Ngaji yang dipentingkan akan menjadi pintu pembuka jalan kehidupan selamat dan sejahtera, di dunia dan di akhirat. Konsekuensi ngaji serius adalah rutin berkelanjutan. Baik berkelanjutan melakukannya, berkelanjutan ayat yang dikaji, melanjutkan dengan pemahaman, sikap dan pengamalan hingga mendakwahkannya.
Ngaji, mempelajari Al Qur’an adalah salah satu pintu dibukakannya Petunjuk Alloh kepada manusia. Terlebih pentingnya mempelajari ilmu yang melandasi manusia dalam ibadah, ibadah sebagai tujuan diciptakannya manusia.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku”
(QS: adz-Dzariyat : 56)
Sebagian dari kita beranggapan pemahaman Islam dan pemahaman Ibadah masih ditempatkan sebagai rangkaian ritual dalam sebuah sistem kehidupan. Hal ini nampak nyata manakala melihat fenomena di masyarakat, dimana Islam dan ibadah muncul di aktivitas sholat, puasa, haji, peringatan-peringatan hari besar, ziarah ke makam-makam wali. Karenanya pemahaman ibadah yang benar, sesuai pemahaman Rasulullah SAW dan para sahabat, sangat penting merasuk dalam sanubari umat muslim, di tengah “budaya” yang dikenal sebagai ibadah.
Maka kebutuhan memurnikan ibadah, dan memurnikan sumber rujukan ketauladanan atau idola kehidupan menjadi sangat penting di dunia yang kian gemuruh dengan kesesatan ini.
Salah satu hal terpenting bagi umat Islam adalah bagaimana mengikuti kaidah yang benar dalam memahami al-Kitab dan as-Sunnah. Meluruskan kembali ibadah di atas keyakinan Aqidah yang lurus dan kokoh, melahirkan ibadah dalam makna yang luas sesuai tuntunan syariat, yang pada gilirannya menghasilkan masyarakat “Baldatun Toyyibatun Wa Rabbun Ghoffur” .
Ibadah secara etimologis berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai makna yang dengan berbagai rumusan, akan tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:
- Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
- Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
- Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.
Makna ibadah secara lebih mudah dalam perspektif yang mudah dipahami diartikan sebagaimana tercantum dalam Buku Miftahul Jannah (KH Abdul Wahid Hasyim) sebagai :
- Gerak hati, ucapan lisan, perubahan anggota badan yang yang didorong keyakinan ghoib. Dorongan keyakinan kepada Allah maka menjadi ibadah yang benar, sebaliknya bila keyakinan kepada selain Allah maka dikatakan sebagai ibadah yang sesat.
- Patuh jiwa raga peraturan, undang-undang, adat kebiasaan. Pada pengertian kedua inipun peraturan, undang-undang dan adat kebiasaan yang sesuai dengan petunjuk Allah maka akan menjadi kepatuhan yang benar, dan sebaliknya kepatuhan kepada peraturan, undang-undang dan adat kebiasaan yang tidak sesuai dengan petunjuk Allah menjadi ibadah yang sesat .
Dengan definisi ini maka esensinya setiap aktivitas lahiriah dan batiniyah manusia masuk dalam ranah ibadah manakala didorong ketundukan dan kepatuhan kepada Allah, mulai dari gerak hati, ucapan lisan hingga amal perbuatan; kepatuhan jiwa raga kepada peraturan, perundangan dan adat kebiasaan sekalipun.
Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim dari hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma)
Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya landasan berilmu dalam beramal
Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:
a. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
b. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ikhlas karena Allah berimplikasi pada kepatuhan total pada perintah, kepatuhan menjauhi larangan, kepatuhan menjalankan hukum, kepatuhan menempatkan eksistensi pribadi manusia dalam ketundukan pada Allah semata. Atau meninggalkan perintah, meninggalkan hukum, dan sikap yang tidak sesuai dengan petunjuk Allah. Yang petunjuk Allah itu ada pada Kalam Allah Al Qur’anul Karim dan Sunnah Rasulullah SAW yang menyertainya.
Karenanya sangat penting sebagai umat yang beriman kita berpegang teguh pada landasan Kalamullah dalam menjalani kehidupan ini.
Allah telah menegaskan akan prinsip ketaatan kepada Allah pada Kitab Suci Al Qur’an surat Ar Ruum ayat 30:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (sebagai perwujudan dari) fitrah Allah (sifat-sifat Allah). (Allah) Yang telah menciptakan manusia, menurut fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (yang berupa) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (hakekat semua ajaran agama-Nya ialah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, dengan menselaraskan kehidupan manusia kepada berbagai sifat-Nya dalam Asmaul Husna)” – (QS.30:30)
Allah menciptakan manusia menurut fitrah yang tetap, yang fitrah tersebut adalah
الدِّينُ الْقَيِّمُ (agama yang lurus), akan tetapi وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ , akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Umat Islam memiliki modal yang sangat besar untuk bersatu, karena mereka beribadah kepada ilaah (Tuhan) yang satu, mengikuti nabi yang satu, berpedoman kepada kitab suci yang satu, berkiblat kepada kiblat yang satu. Selain itu, ada jaminan dari Allah dan Rasul-Nya, bahwa mereka tidak akan sesat selama mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, berpegang-teguh kepada Alquran dan al Hadits. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123, 124).
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm).
Maka pesan Nabi tersebut semestinya kita tangkap dengan serius untuk mengais harapan “ittiba” dengan Ikhsan kepada Rasul dan para sahabat, agar menjadi bagian dari umat Nabi yang selamat.
Firman Allah SWT :
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya),
dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat
tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan
Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya. (QS. An-Nisaa’ : 59)
Banyak petunjuk yang didatangkan kepada manusia dengan Kasih Sayang Allah, mengutus Rasulullah sebagai uswah. Akan tetapi Allah memperingatkan kita sebagaimana Firman Nya di surat Ar Ruum ayat 30,
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ , akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Rangkaian ayat dan hadits diatas cukup menjelaskan “Penting”-nya setiap muslim mengilmui kehidupannya, mengilmui akhiratnya, mendapatkan sumber yang benar pada sumber keyakinan, aktivitas dan cita-citanya, dengan cara mengilmuinya. Cara mengilmui yang kita artikan dengan belajar (umum) dan “Ngaji” (hakiki) menjadi identitas setiap pribadi muslim untuk mementingkan dan melakukannya, selalu… dan selalu….
Maka mari kita galakkan dalam setiap pribadi, setiap keluarga kita, Ngaji Serius, rutin berkelanjutan, dan senantiasa berbuah amal.
(Danang D. Prasetyo, Kabid Humas MPP MPAQ)
oleh Editor Dua | Nov 14, 2017 | Majalah Sinaran
Oleh : M. Akhyar, SE
Menyimak perkembangan ekonomi negeri ini, kita dibuatnya semakin ngeri. Bahkan mata kita akan terbelalak melihat suramnya masa depan ekonomi yang di dominasi oleh kekuatan kapitalisme ekonomi. Bagaimana tidak? Negeri yang luas terbentang memiliki hamparan lahan pertanian bak permadani yang memungkinkan hampir semua jenis komoditas tumbuhan dan pertanian bisa hidup, memiliki lautan dan samudra serta garis pantai yang sangat panjang menjadikan aneka ikan bisa hidup dan berkembang, aneka tambang mulai dari emas, timah, besi, nikel bahkan minyak yang tak habis-habisnya di eksplorasi kondisi geografis anugerah Yang Maha Kuasa, gemah ripah lohjinawe.
Tapi saat kita buka mata,telinga dan hati, maka akan limbung menatap sekeliling kita. Betapa tidak, beras yang kita makan sehari-hari ternyata beras Vietnam, gula yang menghiasi di setiap warung dipasar ternyata impor dari Thailand, bumbu dapur mulai dari bawang, lada dan sebagainya ternyata impor dari china. Daging sapi juga demikian, hamper menghiasi sudut-sudut pasar.Bahkan, tempe yang katanya makanan asli Indonesia bahan bakunya ternyata dari Amerika. Inilah sebuah realita, bahwa untuk pemenuhan kebutuhan pokok saja, ketergantungan pada Negara lain masih sangat begitu besar. Bayangkan bagaimana jika tiba-tiba mereka hentikan ekspornya?
Membebaskan belenggu dengan menanam
Produksi yang menurut pengertianya adalah suatu kegiatan yang menciptakan, mengolah, mengupayakan pelayanan, menghasilkan barang dan jasa atau usaha untuk meningkatkan suatu benda agar menjadi lebih berguna bagi kebutuhan manusia, merupakan sarana terpenting dalam merealisasikan kemandirian ekonomi. Sebab bangsa yang memproduksi kebutuhan-kebutuhannya adalah yang pada realitanya sebagai bangsa mandiri dan terbebas dari belenggu ketergantungan ekonomi. Sedangkan bangsa yang hanya menjadi konsumen selalu menjadi tawanan belenggu ekonomi dan lemah kemampuannya dalam perkembangan yang dapat membebaskan dari ketergantungan terhadap dunia luar.
Marilah bertani, menanam dan terus menanam sungguh negeri ini sangat subur, digambarkan bahwa tongkat dan batu saja jadi tanaman. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya,” (HR. Al-Bukhoriy)
Bercocok tanam atau bertani dalam ajaran Agama Islam merupakan perbuatan yang mulia dan bernilai pahala secara terus menerus tidak putus-putusnya sampai hari kiamat. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahulloh dalam bukunya berjudul, “Silsilah Hadits Shahih,” menjelaskan hadits tentang bertanam pohon itu mengisyaratkan agar seorang Muslim memanfaatkan masa hidupnya untuk menanam sesuatu yang dapat dinikmati orang-orang sesudahnya, hingga pahalanya mengalir sampai hari kiamat.
Aktivitas bercocoktanam dilakukan sampai akhir hayat meskipun tidak sempat menikmati yang ditanamnya sebab sebentar lagi akan meninggal dunia. Namun, dalam ajaran Agama Islam harus terus menanam pohon karena pahala dari yang menanam tanaman itu akan terus diperoleh.
Hal ini dapat dibuktikan, berapa banyak hasil tanaman yang dinikmati orang sekarang ini umumnya yang menanam sudah meninggal dunia akan tetapi manfaat dari pohon yang ditanamnya masih dapat bisa dinikmati banyak orang.
Begitu hebatnya manfaat bercocok tanam terlihat dalam hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwatkan Abu Dawud Al-Anshari, yang artinya, “Jika engkau mendengar bahwa Dajjal telah keluar sedangkan kamu sedang menanam bibit kurma maka janganlah kamu tergesa-gesa untuk memperbaikinya, karena masih ada kehidupan setelah itu bagi manusia.”
Hadist ini menjelaskan bahwa manfaat bertanam pohon itu sangat besar, tidak saja manfaatnya besar ketika di dunia akan tetapi juga sangat besar manfaatnya di akhirat dan hari kiamat bagi yang menanam tanaman itu.
Bangsa Indonesia memberikan julukan kepada para petani sebagai orang mulia karena pekerjaan petani ini memberikan energi kehidupan kepada semua manusia. Julukan petani sebagai orang mulia sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW.
Menanam solusi Ketahanan Pangan
Ingatlah,Seorang pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah kelak bila ada satu saja dari rakyatnya yang menderita kelaparan. Maka sebagai sebuah agama yang sempurna, Islam memiliki konsep dan visi dalam mewujudkan ketahanan pangan. Islam memandang pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang wajib dipenuhi per individu. Syariah Islam juga sangat menaruh perhatian pada upaya untuk meningkatkan produktivitas lahan. Dalam Islam, tanah-tanah mati yaitu tanah yang tidak tampak adanya bekas-bekas tanah itu diproduktifkan, bisa dihidupkan oleh siapa saja baik dengan cara memagarinya dengan maksud untuk memproduktifkannya atau menanaminya dan tanah itu menjadi milik orang yang menghidupkannya itu. Rasul bersabda; “Siapa saja yang menghidupkan tanah mati maka tanah itu menjadi miliknya”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud).
Selanjutnya, siapapun yang memiliki tanah baik dari menghidupkan tanah mati atau dari warisan, membeli, hibah, dsb, jika ia telantarkan tiga tahun berturut-turut maka hak kepemilikannya atas tanah itu hilang. Selanjutnya tanah yang ditelantarkan pemiliknya tiga tahun berturut-turut itu diambil oleh negara dan didistribusikan kepada individu rakyat yang mampu mengolahnya, tentu dengan memperhatikan keseimbangan ekonomi dan pemerataan secara adil.
Syariah Islam juga menjamin terlaksananya mekanisme pasar yang baik. Negara wajib menghilangkan dan memberantas berbagai distorsi pasar, seperti penimbunan, kanzul mal (QS at-Tawbah [9]: 34), riba, monopoli, dan penipuan. Negara juga harus menyediakan informasi ekonomi dan pasar serta membuka akses informasi itu untuk semua orang sehingga akan meminimalkan terjadinya informasi asimetris yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku pasar mengambil keuntungan secara tidak benar.
Demikianlah konsep dan nilai-nilai syariah Islam memberikan kontribusi pada penyelesaian masalah pangan. Konsep tersebut tentu baru dapat dirasakan kemaslahatannya dan menjadi rahmatan lil alamin bila ada institusi negara yang melaksanakannya. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mengingatkan pemerintah akan kewajiban mereka dalam melayani urusan umat, termasuk persoalan pangan dengan menerapkan syariah yang bersumber dari Allah SWT, pencipta manusia dan seluruh alam raya. Wallahu ‘alam.