MEMBENTUK KARAKTER ISMAIL MODERN

MEMBENTUK KARAKTER ISMAIL MODERN

oleh Adin Suryadin,Psi,M.Si

Di akhir jaman ini banyak sekali orang tua dan pendidik kesulitan mendidik dan membentuk karakter budi pekerti pada anak. Banyak anak yang pintar secara akademis dan pengetahuan namun kurang menghormati dan santun pada orang tuanya. Dengan berbagai cara orang tua berusaha menanamkan ahlak yang baik pada anak, namun banyak pula anak-anak yang kurang hormat pada orang tuanya, karena dalam pendidikan sekarang ini kebanyakan bersifat sekuler dan materialistis. Sekolah hanya untuk mendapatkan materi dan gengsi sosial semata, serta kurangnya contoh keteladanan dari orang tua tentang pelaksanaan pendidikan ahlak yang baik. Di momentum bulan Dzulhijjah ini kita pelajari dan ambil hikmah dari kisah nabi ibrahim dalam mendidik puteranya nabi Ismail yang berahlak sangat mulia yan diharapkan  menginspirasi kita dalam membentuk karakter ahlak mulia pada anak kita.

Kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail yang sudah sangat lekat dalam ingatan kita karena kisah tersebut telah diabadikan di dalam Al-Qur’an surat As- shafat ayat  99 – 111. Dimana nabi Ibrahim yang sudah cukup tua dalam berda’wah mengharap dan berdoa agar diberi keturunan  anak yang sholeh yang diabadikan di dalam alqur’an surat As-shaffat ayat 100 “robbi hablii minas shoolihiin” , yaa tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang yang sholeh. Dan Allah mengabulkannya dalam ayat berikutnya: “maka kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar(QS As-Shaffat:101)

Selanjutnya, Hajar (istri nabi Ibrahim) pun hamil dan melahirkan nabi ismail yang akan menjadi seorang nabi. Setalah beberapa waktu dari kelahiran Ismail, Allah SWT memerintahkan Ibrahim pergi membawa Hajar dan Ismail ke Mekah, maka nabi Ibrahim memenuhi perintah itu dan ia pun pergi membawa keduanya ke Mekah yang pada saat itu hanya lembah yang tandus.

Tidak lama setelah sampai di sana, nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat tersebut dan Ibrahim akan kembali ke Syam.  Ketika Hajar melihat nabi Ibrahim pulang, maka Hajar segera mengejarnya dan memegang bahunya sambil berkata, “wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana?, apakah kamu tega meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apapun ini? Hajar terus saja mengulang-ulang pertanyaan berkali-kali hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya. Akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintah kamu atas semua ini?” Ibrahim Menjawab, “Ya.” Hajar berkata. “kalau begitu Allah tidak akan menelantarkan kami”

Kemudian Hajar kembali dan ibrahim melanjutkan perjalanannya hingga ketika sampai pada pada sebuah bukit dan mereka tidak melihatnya lagi, ibrahim menghadap ke sebuah ka’bah lalu berdoa untuk mereka dengan mengangkat kedua belah tangannya, “ya tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah engkau (baitullah) yang dihormati. Ya tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagaian manusia cenderung pada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudah an mereka bersyukur” (QS Ibrahim; 37).

Hajar kemudian menyusul Ismail dan minum dari air persediaan. Hingga ketika air persediaan habis, dia menjadi haus, dan begitu juga anaknya. Lalu dia memandang kepada Ismail sang bayi yang sedang meronta-ronta, kemudian hajar pergi meninggalkan Ismail, dia mendatangi bukit shafa sebagai gunung yang paling dekat keberadaan dengannya. Dia berdiri di sana lalu menghadap ke arah lembah dengan harapan dapat melihat orang di sana, namun dia tidak melihat seorangpun. Maka dia turun dari bukit Shafa dan ketika sampai di lembah, dia menyingsingkan ujung pakaiaannya lalu berusaha keras layaknya seorang manusia yang berjuang keras, hingga ketika dia dapat melewati lembah dan sampai di bukit Marwah lalu berdiri di sana sambil melihat-lihat apakah ada orang di sana, namun dia tidak melihat seorangpun. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali (antara bukit Shafa dan Marwa).

Saat dia berada di puncak Marwah, dia mendengar ada suara, Kemudian dia berusaha mendengarkannya maka dia dapat mendengar suara itu lagi. Ternyata suara itu adalah suara malaikat Jibril ‘alaihissalam yang berada di dekat zamzam, lantas Jibril mengais air dengan sayapnya hingga air keluar memancar. Akhirnya Hajar dapat minum air dan menyusui anaknya kembali. Kemudian malaikat Jibril berkata kepadanya, Janganlah kamu takut ditelantarkan, karena di sini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.

            Ketika Ismail agak dewasa dan sudah mampu berusaha bersama ayahnya, Nabi Ibrahim berkunjung menemui Hajar dan anaknya untuk menghilangkan rasa kangen kepadanya. Maka pada suatu hari, saat Nabi Ibrahim telah bersama anaknya, ia (Ibrahim) bermimpi bahwa dirinya menyembelih puteranya, yaitu Ismail ‘alaihissalam. Setelah ia bangun dari tidurnya, Ibrahim pun mengetahui bahwa mimpinya itu adalah perintah dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala karena mimpi para nabi adalah hak (benar), maka Nabi Ibrahim mendatangi anaknya dan berbicara berdua bersamanya. Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shaaffaat: 102).

Nabi Ibrahim membawa anaknya ke Mina, lalu ia taruh kain di atas muka anaknya agar ia (Ibrahim) tidak melihat muka anaknya yang dapat membuatnya terharu, sedangkan Nabi Ismail telah siap menerima keputusan Allah. Ketika Nabi Ibrahim telah membaringkan anaknya di atas pelipisnya dan keduanya telah menampakkan rasa pasrahnya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, maka Ibrahim mendengar seruan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, “Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash Shaafffat: 104-106)

Tidak lama setelah ada seruan itu, Nabi Ibrahim melihat malaikat Jibril dengan membawa kambing yang besar. Maka Nabi Ibrahim mengambilnya dan menyembelihnya sebagai ganti dari Ismail.

Ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil pelajaran dari peristiwa kisah nabi ibrahim dan nabi Ismail di atas untuk kita implementasikan dalam pendidikan kita di era modern sekarang ini yang tentunya suasana dan keadaan yang sangat jauh berbeda pada masa sekarang ini, namun banyak hal kita bisa mencontoh dan mengambil ibroh dari kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk berusaha mendidik anak kita minimal bisa sedikit mendekati karakter nabi Ismail antara lain:

  1. Berdoa untuk anak kita. Seperti yang dilakukan oleh nabi Ibrahim ketika beliau memohon anak yang sholeh, dan ini dilakukan ketika sebelum punya anak. Kita jarang sekali berdoa untuk anak kita sebelum kita punya anak, biasanya kita berdoa apabila kita ada masalah dengan anak kita. Itulah kekuatan doa orang tua untuk anak kita.
  2. Tanamkan aqidah sejak dini. Pelajaran pertama adalah tidak menyekutukan Allah, tanamkan keyakinan segala sesuatu atas pertolongan dan rahmat Allah, sehingga akan tertanam dalam jiwa anak kalau saya berbuat baik harus karena Allah karena Allahlah yang hanya dapat memberi pertolongan dan pahala baginya. Seperti nabi Ibrahim menanamkan keyakinan kepada istri dan anaknya kalau itu perintah Allah, niscaya Allah tidak akan menelantarkannya.
  3. Adanya kejelasan program, ketegasan dan konsistensi dalam mendidik anak. Nabi Ibrahim walaupun sangat sayang pada anak dan istrinya dan hajar (istrinya) saat itu merajuk dan menanyakan kenapa meninggalkan kami di lembah ini. Dengan tegas terus ibrahim berjalan meninggalkannya karena sesuai dengan program yang Allah wahyukan kepadanya. Seorang ayah tentunya dituntut untuk memberikan program pendidikan, kejelasan dan konsistensi dalam melaksanakannya. Sayang tidak harus semua keinginan anak dan keluarga dituruti kalau sekiranya tidak baik untuk anak dan keluarga kita. Tentunya yang jadi patokan adalah ajaran agama dienulllah.
  4. Komunikasi dan saling menghargai. Nabi Ibrahim waktu mendapatkan wahyu untuk menyembelih puteranya nabi Ismail, tidak lantus langsung melaksanakannya namun menanyakan dulu bagaimana pendapat nabi Ismail tentang perintah ini. Ini menunjukan nabi Ibrahim berusaha mengkomunikasikan tentang perintah Allah dan demokrasi menanyakan bagaimana pendapatnya nabi Ismail. Dengan demikian kalau kita bisa membangun komunikasi yang baik dengan keluarga kita dan saling menghargai pendapat masing-masing maka insya Allah, Allah akan menunjukkan jalan penyelesaian terbaik.
  5. Pelajaran ke lima yang bisa kita ambil hikmah dari kisah nabi Ibrahim dan Ismail adalah kesabaran, dengan kesabaran nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah, Ibu Hajar sabar terus berusaha mendidik nabi Ismail dengan segala keterbatasan alam pada saat itu, membuahkan kesejahteraan dan terbentuknya anak yang sholeh yaitu nabi Ismail. Kita tentunya sebagai orang tua harus terus berusaha dengan sebaik-baiknya menghadapi berbagai cobaan dengan tidak mengeluh. Menghadapi kesulitan perilaku anak, kita terus berdoa dan berusaha dengan tidak pernah berhenti mencari berbagai cara dalam mendidik anak kita, insya Allah dengan kesabaran Allah akan memberikan jalan.
  6. Memasukan ke sekolah yang berorientasi diniyyah, sehingga diharapkan anak di lingkungan sekolah yang islami akan terbentuk aqidah anak yang lurus dan ahlak yang karimah, serta kuat dan tawakkal menghadapi tekanan dan godaan di era modern ini.

Tentunya masih banyak lagi yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah nabi ibrahim dan ismail ini, dengan kita berusaha sebaik-baiknya insya Allah ada jalan untuk terbentuknya anak yang sholeh dan sholehah yang merupakan generasi ahlak  Ismail modern, amiin.

Wallahu a’lam bishowab.

Majalah Sinaran 47 (Artikel Ekonomi Islam – Konsep Pemberdayaan Dalam Islam)

Majalah Sinaran 47 (Artikel Ekonomi Islam – Konsep Pemberdayaan Dalam Islam)

(Konsep Pemberdayaan dalam Islam)

Oleh : M. Akhyar, ME

Dalam Islam, kemiskinan merupakan problem, cobaan bahkan bisa menjadi bencana yang membahayakan dan membawa dampak buruk bagi individu dan masyarakat. Kemiskinan dapat menebarkan benih keraguan terhadap kebijaksanaan Illahi, khususnya mengenai pembagian rezeki. Dan hal itu, dapat mendorong orang melakukan tindak pelanggaran terhadap nilai-nilai akhlak dan agama. Selain itu, kemiskinan dapat merusak moral dan pemikiran manusia, serta mengancam keutuhan keluarga dan stabilitas di masyarakat

Islam tidak hanya mengentaskan kemiskinan dari sisi lahiriah saja atau yang disebut miskin materi (maddiyah). Namun, miskin hati/karakter (ma’nawiyah)juga sangat ditekankan untuk dijauhi sebagaimana disebutkan dakam hadits,”Bukanlah kekayaan itu diukur dengan banyaknya harta, tetapi yang dinamakan kaya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian Islam memaklumatkan perang melawan kemiskinan demi keselamatan akidah, moral dan akhlak umat manusia. Langkah ini, diambil untuk melindungi keluarga dan masyarakat serta menjaga keharmonisan dan persaudaraan diantara anggotanya. Islam menghendaki setiap individu hidup di tengah masyarakat secara layak sebagai manusia. Sekurang-kurangnya ia dapat memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang dan pangan, memperoleh pekerjaan sesuai keahliannya, atau mebina rumah tangga dengan bekal yang cukup. Tegasnya, setiap orang harus tersedia baginya tingkat kehidupan yang sesuai dengan kondisinya. Sehingga, ia mampu melaksanakan berbagai kewajiban yang diamanahkan Allah dan berbagai tugas lainnya.

Masyarakat Islam, baik penguasa maupun rakyat, diminta untuk mengerahkan segenap potensinya untuk mengurangi kemiskinan. Mereka harus memanfaatkan semua kekayaan yang meliputi sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA). Tidak pelak lagi, meningkatnya produksi dan berkembangnya berbagai sumber kekayaan, secara umum berdampak pada pengentasan umat dari kemiskinan.

Mengatasi Kemiskinan

Menanggulangi kemiskinan pada hakekatnya adalah upaya memberdayakan orang miskin untuk dapat mandiri, baik dalam pengertian ekonomi, karakter, etos, budaya, politik dan lain-lain. Karena kemiskinan merupakan problem multi-dimensional, maka penanggulangan tidak dapat hanya dengan strategy pemberdayaan  yang hanya focus pada ekonomi saja. Indikator kesejahteraan dalam Islam adalah jika terbebas dari kekufuran, kemusyrikan, kelaparan dan rasa takut. Sehingga mengatasi kemiskinan musti memadukan kedua unsure yakni mengatasi kemiskinan karakter (integritas) dan kemiskinan materi (ekonomi).

Seseorang yang lemah materi, tidak mudah berbuat negative dan destruktif jika memiliki kekayaan karakter (sabar dan qona’ah). Dengan kekayaan integritas, seseorang tidak mudah tergooda menggadaikan akidah dan berbuat sekehendaknya untuk mendapatkan materi duniawi, Sebaliknya, seseorang dengan harta dan materi yang berkecukupan, tidak kemudian berbanding lurusdengan kaya karakter atau integritasnya. Kemilau duniawi tidak menjadikan seseorang diperbudak harta dengan daya integritas yang dimilikinya. Diperbudak harta maksudnya adalah tidak merasa puas sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Kaya materi plus kaya karakter, menjadikan seseorang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya. Memberikan manfaat bagi orang lain dengan harta adalah ibarat menanam benih yang akan dituai di hari akhir (ad-dunya mazra’ah al akhirah).

Konsep Pemberdayaan dalam Islam

Mengikuti sunnah (ajaran) Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam dalam mendidik, membina dan memberdayakan umat serta dalam menegakkan daulah (Negara), akan membantu para ulama, pemimpin dan rakyat dalam mengetahui jalan untuk meraih kejayaan bagi Islam dan kaum muslimin. Pondasi dasar untuk memberdayakan  umat dan mempersiapkan diri untuk meraih kejayaan dan kemuliaan adalah dengan cara mengikuti petunjuk Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Kalau kita cermati metode Rasulullah dalam memberdayakan dan mendidik para sahabat terbagi dalam dua fase yakni fase Mekkah dan fase Madinah.

  1. Model Pemberdayaan Fase Mekkah

Pada fase ini Rosulullah menyampaikan risalah kepada ummatnya adalah dalam rangka membangun atau memberdayakan mereka dari sisi penanaman akidah, pembentukan karakter individu, keluarga maupun komunitas muslim pada saat itu. Dengan kata lain, pemberdayaan pada periode atau fase Mekkah ini lebih banyak menekankan pada pembinaan atau pemberdayaan karakter. Pencapaian dalam pembinaan karakter ini yang kemudian menjadi modal social bagi langkah-langkah aktivitas selanjutnya ketika melakukan hijrah ke Madinah

  1. Model Pemberdayaan Fase Madinah

Unsur pokok pemberdayaan pada fase Madinah adalah adanya unsur saling percaya (trust) dalam kerangka ukhuwwah (pesaudaraan) antara kaum Muhajirin dan Anshar. Persaudaraan (ukhuwwah) inilah salah satu modal social bagi Baginda Rasulullah yang memiliki dampak signifikan bagi pengembangan komunitas atau masyarakat Madinah di semua lini kehidupan, termasuk dalam transaksi bisnis.

Para sahabat yang kaya menyadari betul bahwa mereka bertanggung jawab atas kekayaan yang mereka miliki. Jika mereka mendapati suatu kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh Negara atau luput dari perhatian Negara, maka mereka mengorbankan kekayaanya untuk memenuhinya. Adalah fakta sejarah dimana pada saat Madinah dilanda krisis, Utsman bin Affan menyedekahkan kafilah dengan deretan 1000 unta yang membawa gandum, minyak dan kismis kepada fakir miskin.

Hal tersebut juga menjadi factor mengapa mentalitas kelas dan konflik kelas tidak pernah muncul. Ini dikarenakan sejak dini, Islam tidak mengakui perbedaan dikalangan manusia atas dasar warna, ras ataupun asal usul. Tidak ada yang lebih baik dari yang lainkecuali dalam ketaqwaanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Masyarakat muslim juga merupakan masyarakatyang terbuka. Kesempatan untuk berkembang dan meraih kehidupan yang layak, terbuka sama untuk semua anggotanya. Islam sangat mendorong dengan memberikan rangsangan yang menyemangatkan kearah pembangunan masyarakat yang kuat, atas dasar saling mencintai dn tolong menolong. Bukan perasaan iri dan perseteruan yang justru akan menjerumuskan ke dalam jurang kehancuran

Instrumen Pemberdayaan Islam

Dalam rangka mencapai target pemberdayaan untuk dua isu utama kemiskinan, Islam memperkenalkan beberap instrument pemberdayaan. Diantaranya adalah system jaminan social, instrument zakat dan wakaf produktif. Dimana instrument-instrumen ini bila di optimalkan maka pasti kita tidak dapat menemui lagi kemiskinan. Karena inilah konsep Islam sebagai solusi untuk mengurai benang kusut kemiskinan sebagai problem di Negara ini yang tak kunjung terselesaikan.

Kesimpulan

Model pemberdayaan Rasulullah tidak hanya sekedar berorientasi pada materi, tapi lebih dari itu yakni pemberdayaan yang berbasic karakter/ integritas (non materi).Ini sekaligus ikhtiyar Rasulullah dalam membangun modal social pada masing-masing individu (khoirul Bariyyah) atau dikalangan umat Islam pada waktu itu. Sehingga terciptalah kesejahteraan social, atau lebih tepatnya umat yang terbaik (khoiru ummah) sebagai tahapan atau tujuan berikut setelah individu atau masyarakat berdaya.

Dalam konteks hubungan yang lebih luas konsep tentang khoiru ummah ini banyak yang mengaitkan dengan istilah “masyarakat madani” dan “civil society”. Masyarakat Madani adalah masyarakat yang bermoral, masyarakat yang menjamin keseimbanganantara kebebasan perorangan dan kestabilan masyarakat; masyarakat yang mampu mendorong daya usaha dan inisiatif individu. Masyarakat yang seperti itulah yang mampu mendorong investasi.

Allahu A’lam bish Showab

 

PAT (PENTAS AKHIR TAHUN) YAUMI FATIMAH JEPARA 2017

PAT (PENTAS AKHIR TAHUN) YAUMI FATIMAH JEPARA 2017

Pentas  Akhir Tahun 2017

BIAS YAUMI FATIMAH

 

Selalu menjadi moment spesial bagi setiap anak, karena semua anak akan mendapatkan kesempatan tampil di hadapan Ayah Bunda dan Keluarga.

 

Dengan konsep tampilan yang selalu dibuat masal dan kolosal, melibatkan sejumlah siswa

Serunya berlatih akan terbayar tuntas ketika orang tua tulus memberi apreasi, Tentu tidak sempurna namun ada pengalaman berharga, bisa tampil di hadapan ratusan mata.

 

Kelak aku tidak canggung lagi “Bertanya” bila saatnya tiba.