SIAPA YANG MENDIDIK ANAK KITA DI RUMAH….?

SIAPA YANG MENDIDIK ANAK KITA DI RUMAH….?

SIAPA YANG MENDIDIK ANAK KITA DI RUMAH….?

Adin Suryadin,Psi,M.Si

pengaruh tv

 

Ketika  saya masuk mengajar di kelas 5, sebelum membuka pelajaran dengan salam anak-anak sudah riuh bercerita tentang sebuah film sinetron sambil melolong berkali-kali mirip serigala……saya tanyakan cerita apa itu ?….mereka semakin tertawa riuh dan mulai menceritakan itu sinetron GGS…apa itu GGS jawab saya…ganteng-ganteng serigala ustadz..masa ustadz gak pernah lihat..? sebuah pertanyaan heran buat saya dari anak-anak. Pada saat itu saya sebagai seorang  ustadz benar-benar merasa kuper… ternyata anak-anak sudah lebih banyak tahu dari pada ustadz nya.

Esok harinya saya mempunyai kesempatan masuk ke kelas 1, setelah membuka dengan salam saya kemudian mencoba melolong seperti serigala yang saya dengar dari siswa kelas 6, dengan senang dan riang semua anak-anak menirukan lolongan tersebut dan bisa fasih menceritakan jalan cerita sinetron GGS (ganteng- ganteng serigala). semakin penasaran dan lalu saya tenyakan film apa saja yang anak-anak senangi..?. jawaban mereka bervariasi mulai dari naruto, dora emon,power rangers, ultra man, sponge bob, dll, yang saya sendiri kesulitan menuliskannya karena kurang populer di telinga saya. Terus saya tayakan siapa yang senang dan sering main game di rumah..?, denga riuh hampir semua anak sering main game di rumah, bahkan mereka dengan antusias menyebutkan nama-nama permainan game yang sering mereka mainkan…wah banyak sekali dan asyik mereka menikmatinya berjam-jam main game di rumah.

Rasa penasaran saya semakin tinggi….dilain waktu dan dilain kota saya tanyakan lagi pada siswa kelas 1 SD, film apa yang mereka senangi di rumah?, apakah kalian tahu tentang film GGS…?. jawaban mereka hampir sama. Hampir semua anak-anak mengenal film sinetron GGS dan dapat mengurutkan film-film yang sering mereka tonton dan nama-nama permainan game yang mereka sering mainkan. persis jawabannya hampir sama seperti di sekolah lain dilain kota tersebut. Lalu saya ganti pertanyaan….siapa yang sering mendengarkan dongeng cerita dari ayah bundanya..?…hanya beberapa anak yang mengacungkan tangannya. Saya tanya lagi dongeng tentang apa yang sering ayah bundanya ceritakan?, kebanyakan jawabannya cerita sang kancil, lupa dan tidak tahu judul ceritanya, dan ada sedikit cerita tentang nabi.

Pada suatu acara parenting dengan orang tua wali siswa, saya tanyakan kepada semua orang tua wali siswa “apakah anda mendidik anak sendiri atau anak angkat?”, jawabnya semua anak sendiri, pertanyaan yang ke dua saya berikan kepada orang tua “ setelah besar ini apakah kita mempunyai pengaruh terhadap perilaku anak kita?”, orang tua ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan ke dua ini. Ini artinya kita sebagai orang tua sendiri secara biologis namun tidak yakin apakah kita yang utama yang paling berpengaruh dalam membentuk perilaku anak.

Dengan kejadian di atas, timbullah sebuah pertanyaan…siapa yang mendidik anak-anak kita di rumah?, lalu kemana kita sebagai orang tua?, apakah kita masih mempunyai pengaruh kepada anak-anak kita..?. ternyata selama ini anak-anak kita di rumah dibimbing dan di didik dengan namanya televisi dan permainan game. Televisi dengan setia stanbay dan konsisten melayani apa yang dinginkan oleh anak-anak kita, kapanpun mereka membutuhkan tinggal mengkliknya maka akan segera memberikan tontonan sesuai kemauan anak, dan dengan setianya sesuai jadwal televisi menayangkan apa yang bisa di tonton oleh anak-anak, kalau ada perubahan jadwal tidak lupa sang televisi memberikan informasi perubahan sehingga anak-anak bisa terus mengikutinya dengan tidak ketinggalan. Sedangkan kita sebagai orang tua sering pulang terlambat dan jarang memberi tahukan apabila ada perubahan agenda kita kepada anak kita, yang sering dilakukan biasanya kalau sudah terjadi baru minta maaf bahwa ayah atau ibu terlambat.maka janganlah heran kalau kita sebagai orang tua sering tidak mengenal perkembangan dan perilaku anak kita.

Jelaslah, bahwa televisi dan mainan game selama ini menjadi orang tua bagi anak-anak kita di rumah, yang selalu setia melayani apa keinginan anak-anak kita dan jugakonsisten memberikan tontonan sesuia keinginan anak. Jadi, janganlah kaget jika tiba-tiba perilaku anak kita berubah, juga jangan kaget jika tiba-tiba muncul banyak pertanyaan-pertanyaan aneh dari anak kita. Kita mestinya tidak perlu marah manakala tiba-tiba anak kita mulai melawan dan berperilaku buruk. Ya, karena kita telah membiarkan anak kita dididik setiap hari oleh orang tua keduanya yang bernama televisi tadi.

Para orang tua yang berbahagia, mari kita resapi  dan renungkan  sekelumit kejadian di atas. Semoga kejadian ini bisa menginspirasi para orang tua dan pendidik di seluruh jaringan sekolah BIAS tercinta ini. Apakah masa-masa emas pembentukan moral anak-anak kita akan dibiarkan dirusak begitu saja oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab?, saya sarankan sebaiknya orang tua bisa mengurangi dan  menjadwal acara televisi sesuai kebutuhan anak saja, serta membuat program-program kegiatan yang bermanfaat di rumah, misalnya jadwal cerita dan sharing bersama ayah bunda, bermain bersama ayah bunda, mengaji dan belajar bersama ayah bunda, pergi ke masjid bersama untuk sholat berjamah atau mengikuti kegiatan bersama yang bermanfaat dan menarik bagi anak-anak. Sehingga kualitas hubungan kita dengan anak selalu terbina dengan baik, dengan demikian kita sebagai orang tua bisa terus membimbing anak-anak kita sesuai visi dan misi pendidikan kita.

Wallahu’llam bishshowab.

 

 

Gaya belajar visual

Gaya belajar visual

Gaya belajar visual

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Adin Suryadin,Psi,M.Si

 

Setiap anak  mempunyai gaya dan cara belajar tersendiri, akan efektif proses pembelajaran apabila sesuai dengan gaya belajar pada anak. Salah satu gaya belajar yang sering dominan pada anak adalah gaya visual.  Gaya belajar visual adalah suatu cara belajar anak dimana anak akan lebih mudah menerima materi pelajaran dengan jalan harus melihat langsung. Apabila guru menerangkan pelajaran seorang anak dengan dominan gaya belajar visual harus melihat mimik dan gerakan bibir dari guru yang menerangkan, karena kalau hanya mendengar saja anak dengan gaya visual sulit untuk menerima dan memahami pelajaran.

Anak dengan gaya belajar visual dalam belajar membutuhkan peraga menarik yang bisa dilihat yang menerangkan materi pelajaran tersebut, sehingga materi pelajaran mudah untuk di ingatnya. Dalam gaya belajar visual tentunya peranan mata penglihatan sangat penting untuk menangkap rangsangan dari luar, gerakan mata anak dengan gaya belajar visual cenderung melirik ke atas dan biasanya mempunyai kejelian untuk mencari sesuatu atau cepat menangkap perubahan yang ada di lingkungan sekitar. Misalnya, mudah mencari benda yang ketelinsut di sekitar ruangan, dan cepat mengetahui perubahan kursi dan juga jeli melihat adanya tambahan pengumuman di papan pengumuman.

Anak dengan gaya belajar visual adalah pembaca cepat dan tekun, ia lebih suka membaca dari pada dibacakan. Karena anak visual bukan pendengar yang baik, dan tidak senang mendengarkan. Seringkali anak seperti ini mengetahui apa yang harus dikatakan namun kesulitan dalam memilh kata-kata yang akan dikatakannya. Makanya dalam sebuah diskusi si anak visual tidak banyak bicara namun lebih senang menulis apa yang dikatakan orang lain. Karena dengan menulis ia bisa mengulang kembali materi pelajaran dengan membaca catatannya.

Kemampuan dalam konsentrasi anak dengan gaya belajar visual biasanya  lebih baik dari pada si auditory namun dalam berbicara si anak visual sangat cepat, sehingga kesulitan untuk menjadi pembawa acara, juru bicara kelompok, atau berpidato. Kalaupun berpidato anak dengan gaya visual harus membawa catatan agar ia bisa lebih percaya diri mengingat pesan atau materi yang akan disampaikan.

Dalam mengingat perintah verbal anak dengan gaya visal sering lupa apa yang diperintahkannya, makanya ia senang mencatat apa yang diperintahkan orang lain agar ia bisa membaca mengingat dengan membaca ulang. Si visual lebih suka melakukan demonstrasi dari pada di suruh bicara atau berpidato.

Ada beberapa tips dan metode untuk mempermudah proses belajar anak dengan gaya belajar visual:

  1. Dalam penyampaian materi pelajaran untuk menandai hal-hal yang penting bisa menggunakan warna atau garis bawah, agar bisa dilihat bahwa yang ini sangat penting untuk diingat.
  2. Dalam pembelajaran bisa menggunakan materi visual seperti gambar, film, diagram dan peta untuk lebih menarik dan mempemudah mengingatnya.
  3. Seringlah membaca buku terutama buku yang berilustrasi. Karena si visual senang dengan membaca buku maka dalam sebuah pembelajaran dorong atau motivasi untuk membaca buku agar ia bisa lebih memahami pelajarannya.
  4. Dalam sebuah pembelajaran si visual bisa di dorong untuk rajin menulis materi apa yang ia tangkap saat itu karena kalau hanya mendengarkan akan mudah lupa setelah beberapa saat berlalu.
  5. Anak dengan kemampuan visual yang tinggi biasanya mempunyai kemampuan menulis yang baik, maka bisa diarahkan untuk menjadi penulis atau pekerjaan yang berhubungan dengan kesekretariatan.
  6. Anak dengan kemampuan visual yang tinggi biasanya mempunyai kepekaan tentang estetika, maka bisa si visual bisa menjadi seorang desainer, arsitek atau bagian penataan lingkungan.

Tentunya dalam pembimbingan dan pengarahan pada proses pembelajaran tersebut harus di sesuaikan dengan minat dan kemampuan anak, sehingga prestasi bisa diraih secara maksimal.

Wallahu’lam bishowab…..